Hujan tak kunjung reda. Kilau embun pagi yang biasanya tampak di rerumputan dan dedaunan pohon kini hanyut oleh air hujan. Aku masih di depan jendela kamar ini, melongok ke luar melihat tetes – tetes hujan yang turun. Itulah yang kulakukan sepanjang malam tadi. Melihat malam kelam yang terus saja menumpahkan hujan, hingga langit itu mulai terbiaskan sinar matahari, langit tak lagi kelam walau rintik hujan masih menetes. Aku memutar bola mataku, melihat seksama apa yang ada di depanku, aku baru tersadar ada banyak hal di sekitarku yang indah. Aku ingin melihat semuanya. Selagi aku masih mampu bernafas, selagi mata ini mampu terbuka, selagi otak ini mampu mengerti apa yang kulihat.
”Selamat pagi,”seorang wanita membuka pintu. Suaranya membuyarkan lamunanku. Aku menoleh. Aku bosan melihat wanita itu, ia selalu memakai baju putih bersih senada dengan penutup kepalanya.
”Ini sarapannya,”diletakannya sebuah nampan dengan piring dan gelas di atas meja. ”sudah mandi ?”lanjutnya.
Tubuhku menghadap ke kiri menatap sebuah pintu kecil di depanku. Kaki ku melangkah perlahan. Menyeret infus di tangan kiriku memasuki pintu kamar mandi itu.
Ia ada di depanku. Dengan sebuah buku kumal yang terus saja dibacanya. Aku sama sekali tak tertarik akan apa yang ia baca. Mataku menatap kosong langit – langit kamar ini. Lama sekali aku di sini. Begitu lamanya hingga aku takut untuk keluar. Jika aku keluar dari sini, itu artinya aku tak lagi bernyawa. Sekarang aku sedang terbaring di sebuah kamar rumah sakit. Kamar ini adalah kamar seorang pasien yang telah difonis dokter mengidap HIV positif. Aku, HIV, mati. Hanya itu yang selalu di benakku. Entah bagaimana virus ini masuk ke tubuhku. Aku adalah seorang remaja baik – baik, tak pernah melakukan hal – hal aneh penyebab penyakit itu. Kedua orang tuaku juga sehat, mereka selalu menemani hari – hariku kini. Yang jelas, kini semakin hari tubuhku semakin rapuh.
”Sha...,” ucap lembut cowok di sampingku.
“gimana menurutmu? Ceritanya bagus kan? Novel ini udah lama banget, sejak aku SD. Novel ini yang bikin aku hobi baca, dan akhirnya nulis, menjadi penulis. Lihat nih, bukunya sampai lusuh banget gara – gara keseringan aku baca.” Noe bercerita penuh senyum sambil menyodorkan buku itu kepadaku.
Noe adalah temanku sejak SMP, kini kita ada di SMA yang sama pula. Waktu bersama membuat kita menjadi sahabat. Noe seorang cowok yang baik, selalu ada saat ku butuh, orang yang sangat optimis kadang sampai terlihat ambisius. Ia adalah penulis, yang kini namanya mulai dikenal sebagai penulis novel berbakat. Ia selalu menyebarkan tawa dan semangat saat bersamaku. Berada di sisinya selalu membuatku ingin melakukan segala sesuatu yang hebat. Namun, kini sebanyak apapun energi yang ia berikan padaku, aku tak mampu berpikir satu hal pun yang dapat kulakukan. Buat apa aku berpikir keras, mencurahkan usaha, semangat dan harapanku untuk sebuah hal yang nantinya akan berhenti begitu saja di tengah jalan. Beberapa bulan lagi aku mungkin sudah hilang dari bumi ini, bahkan tak sampai sebulan, atau mungkin besok bisa saja aku sudah mati. Lalu apa yang bisa aku lakukan? Memikirkanya pun tak sanggup.
”Sha...” Noe memanggilku. Ia pasti tahu aku tak mendengarkan apa yang ia ceritakan dari tadi. Aku menoleh menatapnya. Wajah ini selalu ada di hari – hariku. Kenapa aku tak pernah sadar akan hal itu. Aku terus saja mencari cowok yang baik untukku, tapi Noe tak pernah terlintas sedikitpun.
Noe menatap mataku dalam. Kemudian tersenyum hangat. ”Kita keluar yuk?”tuturnya sambil merangkuh tanganku.
Aku dan Noe kini ada di taman. Taman yang sering aku kunjungi dengan Noe dan teman – temanku yang lain, serta cowokku, yang kini mereka satu persatu mulai tinggalkan aku. Taman ini cukup ramai dikunjungi orang. Mungkin pohon – pohon yang rindang sekeliling taman inilah yang membuat mereka nyaman di sini. Aku menoleh ke kiri, dari kejauhan telihat tempat perkuburan.
”Noe... kalau aku meninggal nanti, aku ingin dimakamkan di sana,” kataku sambil terus menatap makam yang sunyi itu. Noe hanya diam menatapku.
”Nantinya kamu dapat sering – sering melihatku dari taman ini. Jadi aku tak akan kesepian di sana,” lanjutku. Aku menoleh. Noe masih menatapku, masih belum juga melepas tangan kiriku. Aku sudah tak memakai infus lagi. Dokter akhirnya mengizinkanku untuk pulang. Katanya, tubuhku sudah cukup kuat untuk keluar dari rumah sakit, menjalani rawat jalan. Mungkin dokter itu kasihan denganku. Ingin memberikan aku kesempatan untuk menikmati dunia luar di sisa hidupku.
”Sha, aku ingin menjadi seorang penulis yang terkenal di seluruh dunia. Aku ingin menciptakan beribu buku. Yang nantinya orang – orang akan terpesona membaca karyaku itu. Dan novelku itu bakal dibuat film. Setelah itu aku akan keliling dunia. Hahaha... sepertinya hebat. Kamu Sha? Apa yang kamu inginkan?”Noe berucap banyak dengan mata bersinar – sinar, tampak membayangkan keinginannya itu.
”Mati tanpa rasa sakit, kematian yang datang begitu saja, tanpa kusadari aku sudah terpisah dari tubuhku. Terjadi begitu saja,”jawabku sambil mendongak ke atas. Melihat langit pagi yang tak lagi meneteskan air, biru bersih.
”Kau tahu? Kematian selalu saja menghantui pikiranku. Bayangan – bayangan saat malaikat pencabut nyawa menghapiriku. Meminta nyawa ini kembali ke penciptanya. Betapa sakitkah saat itu. Lalu apa yang akan terjadi setelah aku tak mampu menggerakkan tubuh ini. Di manakah aku nantinya.” Air mataku mulai tumpah.
”Aku takut. Aku sangat takut Noe,”aku memegang erat tangan Noe. Ia merangkuh pundakku. Sepertinya ia tak mampu untuk berkata apapun.
”Mimpi... seandainya aku masih punya banyak waktu seperti kau,”ucapku lirih. Aku berusaha menahan air mataku. Lelah rasanya selalu menangis.
”Aku akan membawa impianku di mimpi saat aku tidur panjang nanti. Mimpi yang tak akan berakhir. Jangan bangunkan aku saat detak jantungku tak lagi berdetak. Biarkan saja dokter berusaha menolongku, aku tak ingin bangun jika hanya untuk mati. Kumohon jangan panggil namaku Noe, saat itu aku tak ingin membuka mata ini lagi. Aku tak ingin mimpiku terputus....”
”Szzzt....” Noe menghentikan ucapanku. Telunjuknya yang dingin menyentuh bibirku.
”Keisha...,” ucapnya lirih. Hampir tak terdengar.
”Apa kamu mau jadi pacarku?” lanjutnya.
Aku tersentak. Aku tak percaya apa yang aku dengar. Mataku terbelalak menatap Noe. Jauh di dalam matanya aku melihat pengharapan yang amat besar. Mata yang selalu bersinar itu kini tampak sayu.
”Gila!!” ucapku lantang.
”Kenapa? Karena kau sakit?” Noe menatapku tajam. aku memalingkan wajahku. Aku takut pikiran di benakkku terlihat dari mataku.
”A-ku... tak suka...,” jawabku tertatih. Berat sekali kata itu keluar dari tenggorokanku.
”Tak suka?”
”Karena ku tak suka... kamu.” kulihat wajah Noe yang tampak kaku. Apa dia marah? Maaf Noe. Kau terlampau gila. Mana ada seseorang yang mampu menerima keadaan pacarnya dengan sakit HIV dan tahu hidupnya tak akan lama lagi. Apa yang ia inginkan dari pasangannya itu?
”Huuh...” Noe menghela nafas panjang. Menatapku dan tersenyum. Sangat melegakkan hatiku yang sempat sesak.
”Kau tak perlu menghiburku sampai seperti itu. Jangan memaksakan dirimu. Aku memang kesepian. Tapi apa yang kau lakukan membuatku tersadar aku benar – benar akan sendiri,” ucapku.
”Apa aku terlihat seperti menghiburmu?” tanyanya.
Seulas senyum muncul di wajahku. Senyum kekecewaan. ”Jika kau benar cinta padaku. Apa kau bersedia memberikan umurmu padaku? Menggantikan aku?”
”Tidak. Aku tak akan melakukan itu,” tuturnya. Ku tak pernah melihat wajah Noe yang tanpa senyum seperti ini. ”aku tak akan memberikan sisa hidupku untukmu. Karena aku sendiri tak tahu usiaku. Aku kan memohon pada Tuhan agar kau diberi usia melebihi diriku. Dan berharap kebahagiaan untukmu. Mempunyai beribu mimpi yang tak sekedar mimpi yang kupunya,”lanjutnya. Noe berdiri dari sampingku. Ia menatapku dengan senyum lebar. Senyum yang paling indah yang pernah Noe tunjukan padaku. Kemudian ia berbalik. Melangkahkan kakinya menjauh. Aku terpaku di sana melihat punggung Noe yang semakin menjauh. Ia tak lagi menoleh sekalipun padaku. Noe benar – benar pergi meninggalkanku. Untuk selamanya.
Aku masih disini. Di bangku taman ini. Rasanya taman ini tampak semakin kecil. Atau itu hanya perasaanku saja karena ku sudah semakin tua. Taman ini tak lagi ramai seperti dulu, dua puluh lima tahun yang lalu. Aku menoleh ke kiri, ke arah makam itu. Memandanginya berlama – lama. Hal yang sering aku lakukan semenjak Noe meninggalkanku disini. Sejak saat itu, Noe hilang dariku. Ia pergi mendahuluiku menemui Tuhan. Noe meninggal. Tepat setelah ia menyatakan perasaannya padaku. Punggung yang sedang kupandangi itu, yang terus menjauh dariku, tiba – tiba roboh. Sebuah mobil menabraknya. Nyawa Noe tak terselamatkan karena ternyata Noe yang pernah gagar otak tak bisa lolos dari kecelakaan kali ini.
Gagar otak yang parah itu tak pernah Noe ceritakan padaku. Ia selalu tertawa seperti tak ada masalah di hidupnya. Ia selalu bersemangat sekali menjalani hidup ini, seperti ia akan hidup beribu tahun lagi. Ia meninggalkan mimpi yang benar – benar hanya menjadi mimpi. Saat itu aku merasa kecewa, menyesal, dan sangat bersalah. Ku selalu memojokkan Noe , beranggap ia tak pernah merasakan penderitaanku. Ia hanya mampu tertawa karena ia bukan aku. Bukan seorang yang beranggap kematiannnya sudah di depan mata.
Aku sendiri kini tak menyangka masih diberi kehidupan selama ini. Entah kapan hidupku berakhir, sekarang aku benar – benar tak tahu. Aku tak bisa lagi berfikir kapankah saatnya aku mati, memvonis diriku sendiri seperti dulu. Karena aku tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Itu yang sering Noe katakan padaku. Jangan berfikir kita tak perlu melakukan suatu hal sekuat tenaga. Hanya karena kita tak tahu apa yang akan terjadi esok, selalu berfikir itu semua akan sia – sia jika waktu kita habis begitu saja. Jika itu benar, tak masalah. Namun, jika ternyata waktumu tak kunjung habis, engkau akan menyesal. Sebab engkau kan menyadari bahwa ternyata engkau sendirilah yang menghilangkan waktumu, bukan kematian yang selalu membayangimu.
Semua ucapan Noe itu benar. Ucapan yang dulu tak pernah kupedulikan. Siapa yang menyangka Noe meninggal begitu cepat dengan impian – impiannya yang kupikir itu mudah ia capai. Dan aku, yang dulu menganggap hidupku tak lama lagi ternyata aku masih ada di bumi ini sampai sekarang. Bertahun – tahun lamanya hidup yang tak pernah terbayang. Bahkan kini di sampingku duduk seorang laki – laki, menggantikan posisi Noe. Ia adalah suamiku. Setelah Noe meninggalkanku, aku mengikuti rehabilitasi HIV AIDS. Di sana aku memiliki kehidupan yang baru. Memiliki semangat dan beribu harapan kembali. Di sana aku menemukannya, laki – laki yang bernasip sama di tempat rehabilitasi itu. Entah apa yang akan terjadi jika Noe dulu tak pernah ada di hidupku. Masihkah aku terpuruk dengan bayang – bayang yang tak kunjung terjadi. Aku pasti tak akan mendapatkan semua ini, kebahagianku.
Tangan kananku memegang sebuah buku. Buku yang kumal dan sudah lapuk. Buku yang sering Noe bacakan untukku, tapi tak pernah kudengar. Akhirnya aku membacanya juga. Cerita yang membuatku terperangah. Mungkin dari novel inilah Noe mendapatkan semangat yang begitu besar dalam mejalani hidupnya. Aku membalik halaman buku itu, ke halaman terakhir. Ku baca goresan tinta di kertas itu untuk sekian kalinya.
Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi
Namun . . .
memikirkan apa yang akan terjadi esok pagi adalah hal bodoh
Karena hanya waktulah yang akan memperlihatkan,
segala yang akan ada dan terjadi nanti
Namun . . .
hanya menanti waktu tanpa melakukan apapun,
sama halnya engkau tak hidup...
untuk Keisha yang akan hidup selamanya......
di hatiku...
Kata – kata yang kau berikan padaku ini tepatri kuat di benakku. Akan selalu kuingat. Juga senyum indah yang kau berikan untuk terakhir kalinya padaku Noe, akan selalu ada di hatiku.Terima kasih Noe....
Senyum, semangat, dan jiwamu akan selalu menyertaiku.
. . .
Januari, ’09

0 komentar:
Posting Komentar